Selamat Datang

SELAMAT DATANG

" Saya Hanyalah Seorang Bloger Sejati, mencari ketenangan batin, melalui buah karyaku yang terpublikasi. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga bermanfaat untuk pembaca yang budiman. "

Selasa, 28 Mei 2013

PEMINDAHAN LOKASI PERINGATAN HARI PATIMURA MENAMBAH DISTORSI SEJARAH PATTIMURA



Peringatan hari Pattimura setiap tanggal 15 Mei merupakan momen yang sangat dinantikan oleh ribuan masyarakat Maluku. Puncak Peringatan hari pahlawan Maluku ini, bertempat dilapangan Merdeka Kota Ambon. Namun oleh pemerintah Kota Ambon dalam  peringatan hari Pattimura yang jatuh pada hari selasa,(15/05/203) ini, dipindahkan tempatkan di Saparua. Awalnya, perayaan hari Pattimura ini dilakukan dari saparua menuju Ambon, sesuai rute sejarah. Kini  acara sacral itu, hanya difokuskan di daerah Saparua Kabuapten Maluku Tenggah itu sendiri. 

Pemindahan lokasi peringatan perayaan hari Pattimura dengan puncak acara di lapangan merdeka kota Ambon ini, karena dengan alasan keamanan. Pemda dan Pemkot beserta Aparat Keamanan, tidak dapat menjamin damainya perayaan hari Pattimura tahun ini. Keamanan dan kedamian menjadi barang mahal di negri ini. Keamanaan tidak bisa dijamin, karena jangan sampai konflik Ambon berulang kembali dalam momentum sacral Pattimura kali ini. Pemda Maluku dan Pemkot Ambon traumatic, atas konflik masyarakat Maluku tahun lalu, dalam peringatan hari Pattimura di Kota Ambon.

Momentum hari Kapitan Maluku ini, sangat dinanti-nantikan oleh ribuan masyarakat Maluku yang ada di kota Ambon dan sekitaranya. Masyarakat ingin menyaksikan langsung bagaimana cerita sejarah Pattimura. Cerita perjuangan Kapitan Pattimura yang dikisahkan dalam catatan sejarah Maluku dan momentum hari jadi itu. Puncak acara ini dilakukan dengan pertukaran obor sacral, antara satu negeri dengan negeri lainya. Acara  dengan pawai obor itu sendiri diikuti oleh ribuan masyarakat Maluku sambil berjalan kaki, penuh atraksi yang dapat mengiur penontong ketika melihat momentum itu. 

Masyarakat Maluku yang ikut dalam perayaan itu, diwajibkan memakai kain berang layaknya Kapitan Pattimura masa lalau. Merayakan acara itu sambil berjalan kaki membawa obor sacral, dari Saparua menuju tempat esekusi terakhir di Lapangan Merdeka Ambon. Acara sacral ini, dilakukan berdasarkan cerita sejarah perjuangan Kapitan Pattimura masalalu dalam catatan sejarah Maluku. Sungguh nikmatnya, penonton yang menyaksikan puncak acara ini. Warga yang diberada kota Ambon pun amat menyesal, jika mereka melewati peringatan hari pejuang ini. 

Dengan melihat momentum sacral ini, masyarakat Maluku bisa punya kesadaran sejarah dalam menceritakan kebenaran sejarah perjuangan Kapitan Pattimura itu sendiri. Bisa ada persatuan dan kedamaian bagi Masyarakat Maluku. 

Namun naifnya, momentum sacral yang mengiur ini, segaja dialihkan dan Pemkot Ambon hanya karena alasan keamanan. Alasan pemindahan lokasi yang dikemukan pemkot sanga kontroversial dengan alasan pemda provinsi Maluku, dimana pemindahan lokasi agar menjadikan saparuah sebagai kota sejarah. Padahal Pemda dan Pemkot adalah orang yang mempunyai kekuasan di daerah, yang bisa memikirkan bagaimana keamanan dan kedamaian di Maluku dan kota Ambon bisa terjamin. Apa gunanya Aparat Keamanan, Apa gunanya pemerintah daerah dan kota, jika mereka tidak mampu menjamin keamanan di daerah ini. Pemda dan Pemkot tidak ada kesadaran sejarah, sehingga sesuka hati melakukan sesuatu tampa melihat nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalam perayaan itu.

Pemindahan perayaan hari patimura ini sebuah penistan dan kecelakaan sejarah. Pemda Maluku dan Pemkot Ambon sudah tidak punya kesadaran sejarah. Pemeritah di negeri ini dengan sengaja memutus mata rantai cerita, dan kebenaran sejarah Kapitan Pattimura.

Padahal Pattimura dikenal dan dikenang sebagai seorang Kapitan yang sangat menjujung tinggi kebenaran, tidak pandai berbohong. Pattimura di sebut pahlawan, sebab perjuangan dan komitmenya dalam membelah serta memperjuangkan hak-hak rakyat Maluku tampa pamrih. Kerelaan Pattimura menjadi kapitang perang, hanya untuk membela dan mempertahankan tanah dan rakyat Maluku, yang dirampas dan ditindas kaum penjajah klonial kala itu. Pattimura pun relah mati ditiang gantungan, hanya untuk mempertahankan komitmen dan idealismenya, agar kelak Pattimura tidak dikenal dan dikengang sebagai pahlawan penghianat.  

Namun celakanya juga, nama besar nan suci Kapitang Patimmura ini, telah dikotori para pembuat sejarah Pattimura, yang mencoba menulis cerita sejarah perjuangan pattimura, sesuai dengan versi masing-masing. Multitafsir itu, menyebabkan Pattimura adalah pahlawan kontroversi di kalangan generasi muda Maluku saat ini. Penulisan sejarah perjuangan Kapitang Pattimura sebagai seorang pahlawan kebanggaan masyarakat Maluku ini,juga tidak didasarkan objektifitas dan kebenaran mutlak dari sumber sejarah itu sendiri. 

Distorsi penulisan sejarah Kapitan Pattimura itupun terjadi, sehingga semakin membingungkan generasi muda masyarakat Maluku saat ini. Siapa sebenarnya Pattumura itu.? Pertanyaan ini belum ditemukan jawaban mutlak sesungguhnya.Jawaban tentang siapa patimura? menjadi kontrovesial dikalangan generasi muda masyarakat Maluku saat ini.

Kapitan Pattimura adalah pahlawan yang kontroversial bagi masyarakat Maluku. Ada yang menyebut nama Patimura sebagai Thomas Mattulesy, (versi Kristen) ada juga menjebut Pattimura adalah Ahmad Lesy (versi islam). Dua nama dalam satu orang yang membinggungkan, dan menjadi kotroversial dari kebenaran sejarah. Namun biarpun multitafsir tentang Kapitang Pattimura. Jelasnya, perjuangan suci Kapitang Pattimura yaitu untuk membebaskan rakyat Maluku dari sitem kolonialisme dan inpralisme yang menindas.

Perjuangan Pattimura dengan penuh idealisme kala itu, bagi generasi muda saat ini hanyalah sebuah foklor (cerita rakyat) yang tidak dapat di uji kebenaranya.Banyak orang Maluku mengkleim bahwa Kapitan Pattimura adalah berasal dari daerah ini, dan daerah itu. Bahkan anehnya lagi, mereka juga mengkleim bahwa Kapitan Pattimura adalah keturunan moyang mereka.Entah atas dasar apa, dan pendekatanya seperti apa, sehingga mereka bisa mengklein sesuka nafsu mereka sendiri. Bahwasanya pattimura itu, adalah bagian dari moyang mereka.

Menurutku, Pemindahan lokasi peringatan hari pattimura di Saparua sudah tidak cukup membuktikan kebenaran sejarah perjuangan patimura. Karena pemidahan lokasi tersebut, telah memutus mata rantai kebenaran cerita sejarah pattimura maka, hal ini justru semakin menambah dan menampakan distorsi sejarah perjuangan pattimura itu sendiri. Padahal mestinya, peringatan hari patimura itu didasarkan atas kebenaran sejarah. Tampa harus ada distorsi sejarah, sehingga memunculkan kesadaran sejarah bagi anak Maluku, agar generasi muda Maluku saat ini bisa belajar seperti generasinya pattimura masalalu, yang penuh semangat, idelisme, komitmen dalam membela kebenaran, dan menegakan keadilan kepada seluruh rakyat Maluku.

Sebagai orang mempunyai kesadaran sejarah, mestinya peringatan hari patimura itu harus dilaksanakan berdasarkan kebenaran dan fakta sejarah. Pemidahan lokasi itu, bagian dari Penistaan terhadap kebenaran perjalanan sejarah pattimura, Kembalikan kebenaran sejarah patimura demi memunculkan kesadaran sejarah bagi generasi-generasi muda Maluku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar